Kamis, 04 Juli 2013

UPACARA SEREN TAUN



Dalam artikel ini saya akan menulis tentang Kebudayaan yang ada di Banten, dan salah satu dari begitu banyaknya Kebudayaan yang ada di Banten, saya akan menulis tentang ”Upacara Seren Taun” yang diselenggarakan oleh masyarakat Kasepuhan dan masyarakat Baduy. Kebudayaan ini biasa disebut juga dengan Kebudayaan Tradisi, dimana pemaknaannya adalah sesuatu yang berkaitan dengan adat kebiasaan turun temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan dalam masyarakat dan terus bertahan hingga kini.
Warga Kasepuhan bermukim di daerah Lebak (Banten Selatan), tepat di sekitar kawasan Gunung Halimun di wilayah Bogor Selatan dan Sukabumi Selatan, sesuai dengan pengakuan mereka sebagai warga kesatuan adat Banten Kidul. Warga Kasepuhan menamakan diri sebagai warga Kasatuan (kesatuan), yang dalam tata cara kehidupan mereka masih secara ketat menjalankan tatali paranti karuhun. Walaupun dalam beraktivitas mereka tidak menutup diri dalam pergaulan dengan masyarakat desa pada umumnya, sikap terbuka ini pula yang membedakan mereka dengan orang Baduy yang tinggal disekitar kawasan Gunung Kendeng yang terletak tidak jauh dari Kawasan Kompleks Gunung Halimun.
Warga Kasepuhan memiliki hubungan yang erat dengan Kerajaan Sunda terakhir di Jawa Barat yang berkedudukan di Bogor, dan mereka merupakan keturunan langsung dari salah seorang Raja Kerajaan Sunda yaitu Prabu Siliwangi. Dan agama yang dianut warga Kasepuhan umumnya beragama Islam, dan tergolong penganut yang taat walaupun mereka tetap melaksanakan adat istiadat nenek moyang yang merupakan pedoman hidup utama sebagai keturunan pancer pangawinan, pedoman hidup tersebut berfungsi sebagai pembimbing warga Kasepuhan dalam mencapai ketentraman hidup sehingga terlepas dari hukuman nenek moyang karena pelanggaran atas tabu.
Sedangkan mata pencaharian utama warga Kasepuhan adalah berladang (huma), sehingga kegiatan sosial yang menjadi tali ikatan bagi mereka dimana pun berada adalah Upacara Seren Taun yaitu sebuah budaya yang berawal dari masa Megalitik dan terus bertahan sampai sekarang. Dalam arus adaptasinya, banyak hal yang harus disesuaikan dengan jamannya, mungkin beberapa mantera dikurangi atau sedikit bagian dari prosesi upacara tidak dipertontonkan di muka umum bahkan mungkin dihilangkan, dan sedikit bagian lagi sengaja digelar untuk umum demi kepentingan pariwisata, yang intinya menggelar acara penghargaan terhadap nikmat yang diberikan Tuhan kepada umatnya.
Upacara Seren Taun mengandung makna serah terima tahun lampau kepada tahun yang akan datang, dan merupakan wahana syukuran kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang dilaksanakan pada tahun terdahulu disertai harapan agar tahun selanjutnya kehidupan pertanian akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Tradisi ini sudah berlangsung sejak masa Kerajaan Sunda.
Upacara Seren Taun diselenggarakan di daerah Baduy dan Kasepuhan pada prinsipnya tidak berbeda karena diantara mereka masih memiliki latar belakang historis yang sama yaitu ”Rawayan Pajajaran” (Keturunan Warga Pajajaran). Saat ini penanggalan Upacara Seren Taun tidak lagi berpijak pada kalender Pajajaran, melainkan lebih kepada kalender Islam atau kalender Masehi. Namun demikian roh dan kejiwaan yang terpancar dari Upacara itu ”Nyunda majajaran”.
Pemilihan Seren Taun dihitung berdasarkan bintang penuntun pertanian yaitu Bintang Kerti dan Bintang Kidang, dan ritual dilakukan oleh para sesepuh yang berjumlah 7-9 Orang, dan perhitungan harinya telah dilakukan jauh sebelumnya, biasanya Upacara ini dilaksanakan 49 hari setelah musim panen dan berlangsung selama 9 hari.        
Pada hari pelaksanaan, acara Balik Taun Rendangan merupakan acara pembuka, Rendangan berarti seluruh keturunan Kasepuhan Banten Kidul, dan ritual berikutnya adalah Ngareremokeun yaitu memasukkan padi ke dalam lumbung (leuit) dan Upacara dimulai dengan pembakaran kemenyan yang dilakukan oleh Dukun Pangampih sebagai Pemimpin Upacara disertai pembacaan mantra dan do’a agar padi yang disimpan dalam lumbung utama dapat mencukupi kebutuhan warga dan panen di tahun mendatang melebihi hasil panen tahun ini, dan iring-iringan di ikuti oleh penghantar pembawa padi utama terdiri dari tiga orang wanita yang sudah menopause dan dua orang gadis pemikul rengkong dan beberapa orang pria pembawa padi, pemain Gondang, dan pemain Toleat.


 Dan para sesepuh membawa Sembilan Bakul Padi yang dibungkus kain putih sebagai simbol dari Sembilan Wali yang menyebarkan Agama Islam di tanah Jawa termasuk Banten. Para Sesepuh juga menyanyikan puji-pujian kepada Dewi Sri sebagai penjaga kesuburan tanah dan tanaman yang mereka pelihara, diiringi dogdog lojor, Angklung buhun dengan tembang-tembang sebagai pasokan makanan warga Kasepuhan serta seluruh masyarakat Kasepuhan Banten Kidul. Prosesi Ngareremokeun diakhiri dengan memotong kerbau dan kambing di areal terbuka dan sebagai puncak acara, di gelar kesenian tradisional yang ada di daerah tersebut.


Upacara Seren Taun biasanya dilaksanakan pada Bulan Syawal atau Bulan Silih Mulud (Tahun Hijriyah) atau sekitar Bulan Juni-Juli dengan rangkaian kegiatan :

  1. Hari Pertama (malam), dipagelarkan Mantun Nyoreang alam katukang yang intinya adalah membuka riwayat perjalanan kehidupan pada masa Kerajaan Sunda (Padjadjaran) dengan Prabu Siliwangi dan keluarganya.
  2. Hari Kedua, prosesi Ngareremokeun dan dilanjutkan dengan acara kesenian.
  3. Hari Ketiga, acara Seremonial bersama Pejabat Pemerintah dari berbagai tingkatan dan dipagelarkan atraksi yang berbau magis.
  4. Hari Keempat (malam), diisi dengan acara Rasulan dan Ceramah Agama.

Setelah itu acara terakhir yang hanya berlaku bagi para Rendangan adalah pemberian Tukuh dari Abah sebagai syarat yang akan ditanam di ladang pada awal musim tanam, Tukuh yang sudah dido’akan atau di syariatkan oleh Abah itu dipercaya dapat mendatangkan panen yang berlimpah. Masyarakat Kasepuhan mengenal dua sistem pemerintahan yaitu sistem nasional dan sistem adat. Sistem Nasional mengacu pada aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Sistem Adat mengacu pada adat istiadat Kasepuhan.


    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar