Kamis, 04 Juli 2013

MENJELAJAHI BEKAS-BEKAS PENINGGALAN ZAMAN BELANDA DI KOTA RANGKAS BITUNG

Disini saya akan menulis kembali sejarah tentang peninggalan zaman Belanda yang ada di sekitar Kota Rangkasbitung, dimana saya sebagai penulis ikut langsung meneliti dan menjelajah bekas-bekas Peninggalan Pada Masa Belanda yang peninggalannya itu tentu saja ada sisi positifnya untuk kehidupan kita sebagai Bangsa. 
Arti Sejarah bagi saya adalah guru bagi kehidupan kita bersama bahkan menjadi perikehidupan bersama bangsa-bangsa dan masyarakat Internasional. Peristiwa-peristiwa sejarah sangat mempunyai pengaruh besar dan menentukan, juga sering menjadi fokus perhatian masyarakat, khususnya dari para pelaku dan pemerhati sejarah baik yang menyangkut dimensi obyektifitas maupun dimensi subyektifitasnya. Oleh karena itu, betapa pentingnya kita mempelajari dan memahami sejarah secara obyektif dan komperehensif terutama peristiwa sejarah yang mempunyai pengaruh terhadap perkembangan bagi kehidupan kita sebagai bangsa.
Kota Rangkasbitung adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Indonesia. Rangkasbitung juga merupakan ibu kota dari Kabupaten Lebak. Kabupaten Lebak juga merupakan salah satu kabupaten penghasil produk pertanian, perkebunan juga perikanan.
Beralihnya kekuasaan dari tangan Inggris kepada Belanda pada Tanggal 19 Agustus 1816 di Batavia, menyebabkan terjadinya pergantian Bupati di Banten. Pada masa Pemerintahan Bupati Lebak yang ke-2 yaitu R.T.A.  Karta Nata Negara ditandai dengan terjadinya peristiwa-peristiwa penting, seperti Pelaksanaan Sistem Tanam Paksa (cultuurstelsel), munculnya perlawanan rakyat, pemindahan ibu kota Kabupaten, reorganisasi wilayah, dan kasus Max Havelaar.
Disini yang pertama kali saya akan tulis mengenai bekas-bekas peninggalan Pada Masa Belanda adalah Kereta Api, dimana pada Masa itu Pemerintah Kolonial membangun jalur rel kereta api sebagai sarana transportasi dan mempermudah jalinan perhubungan. Pekerjaan pembuatan rel  kereta api pertama pada Zaman Kolonial di Indonesia dimulai pada tahun 1863 dan 1864 berupa sebuah jalur kereta api dari Batavia ke Bogor. Pada Tahun 1873 Pemerintahan Hindia Belanda membangun jalur kereta api dari Semarang ke Solo dan Yogyakarta dan menghubungkan ke Surabaya, pasuruan, dan Malang pada tahun 1879. Dan pada Tahun 1896-1900 dibangun jalur rel kereta api dari Tanah Abang sampai ke Anyer Kidul dengan melewati Rangkasbitung, Serang, dan Cilegon.
Dan Stasiun Kereta Api di Rangkasbitung pertama kali dibuka pengoperasiannya pada tanggal 1 Juli 1900.  Di Stasiun ini juga terdapat Dipo Lokomotif yang menyimpan gerbong Kereta Api Langsam, Rangkas Jaya, serta Banten Ekspres dan lokomotif jenis BB304 dan CC201 yang didatangkan dari Dipo lokomotif Jatinegara dan Dipo lokomotif Tanah Abang. Dulu terdapat Jalur kereta api menuju Labuan melewati Pandeglang. Jalur ini juga mempunyai cabang di Saketi menuju Bayah.
Pada masa jayanya, stasiun ini merupakan urat nadi perekonomian masyarakat Banten, Rangkasbitung yang ketika itu merupakan kota Industri pertanian sangat bergantung pada kelancaran arus perputaran transportasi untuk membawa hasil perkebunan dan pertanian ke Betawi, dan itu bisa diatasi dengan keberadaan stasiun di Rangkasbitung. Sisa-sisa kegiatan pergerakan ekonomi itu sampai kini masih dapat kita jumpai, seperti banyaknya sayur mayur yang diangkut KA, termasuk hewan ternak untuk dijual di Jakarta.
Pada Masa Jepang, dibangun jalur KA Saketi-Bayah, yang dikenal dengan kerja paksa Rhomusa, karena Jepang saat itu sangat membutuhkan batubara sebagai sumber energi, dan ujung perjalanan KA Saketi-Bayah itu adalah Stasiun Rangkasbitung, sebelum akhirnya sampai di Jakarta, sayang jalur yang sangat bersejarah itu kini sudah tidak berfungsi lagi.
Penelitian pertama yang saya lakukan adalah dari Kampus STKIP Setia Budhi Rangkas Bitung, saya pergi menuju sebuah Gereja yang ada di Rangkasbitung, tapi sebelum sampai disana saya melewati Pasar Rangkasbitung, dimana dahulunya pasar ini adalah sebuah terminal mobil, dan pada jam-jam segitu, masih banyak pedagang sayuran yang berdagang di emperan kaki lima sehingga banyak mobil dan motor yang mengalami kemacetan disana, tetapi hanya sebentar tidak lama, di jalan juga kami melewati Vihara yang ada di Jl. Leuwiranji yang posisinya persis bersebrangan dengan Pasar Rangkasbitung. Pedagang Sayuran ini juga saya lihat di sepanjang jalan dari arah Rel Kereta Api Rangkasbitung sampai ke depan BARATA, pasar ini beroperasi setiap hari di mulai dari Pukul 03.00 WIB sampai dengan Pukul 07.30 WIB.






Kemudian penelitian dilanjutkan kembali yaitu menuju sebuah Gereja yang ada disekitar Kota Rangkasbitung, disana ternyata bukan hanya ada satu Gereja saja tetapi melainkan ada Dua Gereja yang terdapat disana,yaitu Gereja Kristen Pasundan (GKP) Jemaat Rangkasbitung yang ada di Jln. Sunan Kalijaga No.5 Rangkasbitung, dan Gereja Bethel Indonesia yang ada di Jln. Sunan KaliJaga No.20 Rangkasbitung.





Penelitian selanjutnya yaitu ke Rumah Sakit Misi yang ada di Jln. Multatuli, tetapi di jalan saya melewati Jalan Utama Multatuli (Jalan Protokol) dan memfoto salah satu rumah warga yang bentuknya seperti rumah pada masa Zaman Belanda (Rumah Zaman Dulu), lalu sampai pula di Rumah Sakit Misi dimana Rumah Sakit ini didirikan oleh pihak swasta yang berada di Kota Rangkasbitung.dan diperjalanan saya melewati SMPN 1 Rangkasbitung, kemudian perjalanan pun dilanjutkan kembali menuju Gedung Juang 45 Pamitran yang ada di Jln. Multatuli No.25 Rangkasbitung dan selanjutnya menuju SMPN 4 yang ada di Jln. MA SALMUN No.6 Rangkasbitung, dan dilanjutkan menuju LP (Lembaga Pemasyarakatan) Rutan Rangkasbitung, dimana Gedung ini didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda Pada Tahun 1918 sebelum Tahun 1917 di Indonesia yang diambil oleh Pemerintah Belanda dari Induknya.

    


















   





Dan perjalanan kembali menuju Rumah Multatuli yang lokasinya berada tepat di dalam Rumah Sakit Umum Adjidarmo Rangkas Bitung yang ada di Jl. Iko Jatmiko No.1, dimana rumah ini dahulunya merupakan tempat tinggal Eduard Douwes Dekker seorang Assisten Residen Asli Belanda yang menulis semua perasaan temuannya di Lebak dengan membuat buku pengenal Max Havelaar pada tahun 1839 setahun setelah di Batavia pada tanggal 21 Januari 1859, Eduard Douwes Dekker menginjakkan kakinya diLebak Banten Sebagai Assisten Residen.


    

  


Setelah itu Perjalanan pun dilanjutkan menuju Gedung DPRD Kabupaten Lebak, diperjalanan kami melewati Alun-alun Multatuli Rangkasbitung dan Mesjid Agung Rangkasbitung, dan akhirnya sampai pula di depan Gedung DPRD Kabupatern Lebak, yang mana Nama pertama gedung seluas 165 Meter Persegi ini adalah Contrakten Administratie yang dahulunya berfungsi sebagai Pusat Urusan Administrasi Penyelesaian Kontrak-kontrak Perkebunan di wilayah Administratif Banten Selatan didirikan sekitar tahun 1932. Dan terus berjalan menuju Pendopo tempat Bpk Bupati Melaksanakan dan menyelesaikan tugas-tugas kedaerahannya.
Melanjutkan lagi perjalanan ke Taman Makam Pahlawan ”SIRNA RANA” Rangkasbitung, terus dilanjutkan ke Rumah Ibu Kania, beliau merupakan Salah Satu Kerabat dari Bupati Lebak yang ke-8 yaitu Raden Tumenggung Hardi Winangoen (periode 1938-1944), makam-makam keluarganya ada di Cikario dimana rumahnya ini adalah rumah pribadi dan rumah hak milik, bangunan ini diperbaiki sekitar tahun 1914 dan di isi penuh pada tahun 1942-an. Ada satu kelebihan yang terdapat pada rumah Ibu Kania ini, yaitu pintu rumah bagian depan/ pintu masuk, pada masa Belanda itu tidak dapat tembus peluru dimana pada saat itu rakyat pribumi sedang dijajah oleh bangsa Belanda sehingga menimbulkan perang antara pihak pribumi dengan bangsa Belanda. Dan  Max Havelaar sangat tidak ada hubungannya dengan Keluarga Besar Ibu Kania, yang jelas-jelas beliau sangat tidak suka dan sangat tidak senang dengan kedatangan Belanda di Rangkasbitung ini.


   






  


  

        
Kembali melanjutkan perjalanan ke Menara Air dimana dahulunya Menara Air ini berfungsi sebagai Menara Pengatur bagi Suplai Air Bersih untuk Kota Rangkasbitung. Dan Melanjutkan kembali perjalanan ke Stasiun Kereta Api Rangkasbitung dimana dijalannya saya melewati beberapa gedung-gedung, sekolah-sekolah, Kodim Rangkasbitung, DETASEMEN POLISI MILITER, PLN Rayon Rangkasbitung, PLN area Banten Selatan, dan melewati tempat tinggal bekas pegawai pabrik Penghasil Minyak terbesar di Asia Tenggara (dahulunya) dan tempatnya persis di Belakang Pusat Perbelanjaan BARATA Rabinza Mall.











    
Foto-foto bersama teman-teman yang lain di Pinggir Rel Stasiun Kereta Api dan penelitian pun akhirnya selesai dan kita semua pun bubar  lalu melanjutkan kembali perjalanan menuju Kampus STKIP Setia Budhi Rangkasbitung secara terpisah, ada yang pulang ke Kampus menggunakan motor, ada yang jalan kaki dan ada pula yang naik mobil angkot. Dan akhirnya tiba di Kampus STKIP Setia Budhi Rangkasbitung, istirahat sebentar di Saung, yang ada di dalam Kampus lalu kemudian beranjak kembali ke Mushola untuk melaksanakan Ibadah Sholat Dzuhur.

       
  


           




     



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar